Kamu baru baca Juknis 374/2026 dan berhenti di satu kalimat yang bikin deg-degan: DOI untuk semua artikel. Bukan cuma edisi terbaru. Bukan cuma dua tahun terakhir. Semua artikel yang pernah diterbitkan jurnal kamu, dari edisi pertama.
Masalahnya, banyak jurnal di Indonesia yang baru mulai pakai DOI belakangan. Artikel-artikel lama dari 2018, 2019, 2020 belum punya DOI sama sekali. Dan sekarang semua itu harus punya DOI kalau mau lolos akreditasi. Ini bukan soal skor rendah, ini soal tidak dinilai sama sekali.
DOI masuk sebagai salah satu dari 8 gate criteria. Gate criteria itu syarat mutlak yang harus terpenuhi sebelum jurnal boleh dinilai. Gagal di satu gate saja, jurnal langsung tidak lulus. Skor akhir: nol.
Baru Sadar DOI Harus di Semua Artikel? Jangan Panik, Tapi Harus Gerak Cepat
Kamu baru baca Juknis 374/2026 dan berhenti di satu kalimat yang bikin jantung deg-degan: "Digital Object Identifier (DOI) untuk semua artikel." Semua. Bukan cuma yang terbit tahun ini, bukan cuma dua edisi terakhir - tapi semua artikel yang pernah diterbitkan jurnal kamu.
Masalahnya, banyak jurnal di Indonesia yang baru mulai pakai DOI belakangan. Mungkin dari 2022, mungkin 2023. Artikel-artikel lama dari 2018, 2019, 2020 belum punya DOI sama sekali. Dan sekarang semua itu harus punya DOI kalau mau lolos akreditasi. Ini bukan soal skor rendah - ini soal tidak dinilai sama sekali.
DOI masuk sebagai salah satu dari 8 gate criteria di Juknis baru. Gate criteria itu syarat mutlak yang harus terpenuhi sebelum jurnal kamu boleh dinilai. Gagal di satu gate saja, jurnal langsung tidak lulus tanpa penilaian lebih lanjut. Skor akhir: nol. Jadi ini bukan area yang bisa ditawar atau dicicil nanti.
Kenapa DOI Jadi Gate Criteria, Bukan Sekadar Poin Tambahan
Dulu, DOI itu nice to have. Jurnal yang punya DOI dapat poin lebih, jurnal yang belum ya skornya berkurang sedikit. Masih bisa lolos akreditasi walau tanpa DOI, asal aspek lain kuat. Sekarang ceritanya berbeda total.
Di Juknis 374/2026 yang mengacu pada Permendiktisaintek 9/2026, DOI dimasukkan ke gate criteria. Artinya ini bukan lagi soal poin, tapi soal lulus atau tidak lulus. Logikanya seperti ini: kalau kamu daftar ujian tapi belum bayar pendaftaran, kamu tidak boleh masuk ruang ujian. DOI itu "biaya pendaftaran" untuk akreditasi jurnal sekarang.
Alasan di balik kebijakan ini sebenarnya masuk akal dari perspektif indexing global. DOI memastikan setiap artikel punya identitas unik yang bisa dilacak di mana pun. Tanpa DOI, artikel secara teknis "tidak ada" di ekosistem penerbitan ilmiah internasional. Pemerintah ingin jurnal-jurnal terakreditasi benar-benar bisa diverifikasi secara digital, bukan cuma klaim di atas kertas.
Yang bikin panik, frasa "untuk semua artikel" itu memang berarti semua. Bukan hanya artikel yang terbit setelah jurnal mendaftar DOI. Bukan hanya dua tahun terakhir. Semua artikel yang ada di arsip jurnal kamu, dari edisi pertama sampai yang terbaru, harus punya DOI aktif yang terdaftar di Crossref atau DataCite.
Berapa Banyak Artikel yang Harus Diberi DOI? Hitung Dulu
Sebelum panik soal biaya dan waktu, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah audit. Buka OJS kamu, masuk ke arsip, dan hitung berapa total artikel yang sudah diterbitkan sejak jurnal berdiri. Lalu cek berapa yang sudah punya DOI aktif.
Cara ceknya gampang: buka Crossref Content Registration, masukkan prefix DOI jurnal kamu, dan lihat berapa artikel yang sudah terdaftar di sana. Bandingkan dengan total artikel di OJS. Selisihnya itulah jumlah DOI yang harus kamu retroactive-register.
Contoh konkret: jurnal kamu terbit sejak 2016, dua edisi per tahun, rata-rata 10 artikel per edisi. Total sekitar 200 artikel. DOI baru aktif dari 2022, jadi 80 artikel sudah ada DOI, 120 belum. Berarti kamu perlu mendaftarkan 120 DOI retroaktif. Itu bukan angka kecil, dan prosesnya bukan klik satu tombol.
Jangan lupa cek juga apakah DOI yang sudah terdaftar itu benar-benar aktif dan resolve ke halaman artikel yang benar. DOI yang broken atau mengarah ke halaman 404 sama saja dengan tidak punya DOI. Crossref punya tool "Participation Reports" yang bisa menunjukkan DOI mana yang bermasalah di prefix kamu.
Biaya Retroactive DOI: Tidak Semahal yang Dibayangkan, Tapi Juga Bukan Gratis
Mari bicara angka. Crossref menerapkan dua komponen biaya: membership fee tahunan dan biaya per DOI yang didaftarkan. Untuk membership, organisasi kecil di negara berkembang seperti Indonesia biasanya masuk tier paling rendah, sekitar $275 per tahun. Lalu setiap DOI yang didaftarkan dikenakan biaya $1.
Jadi kalau kamu punya 120 artikel yang belum DOI, biayanya kira-kira $275 (membership, jika belum member) + $120 (DOI registration) = $395. Dengan kurs sekarang sekitar Rp 6,3 juta. Untuk jurnal yang dikelola institusi, ini bukan angka yang mustahil. Tapi untuk jurnal kecil yang dikelola mandiri, ini memang perlu planning.
Ada alternatif yang lebih murah: lewat Crossref Relay. Dengan Relay, kamu tidak perlu bayar membership $275 karena bergabung lewat sponsor organization. Biaya DOI tetap $1 per artikel. Di Indonesia, beberapa LLDIKTI, Perpusnas, dan organisasi profesi sudah jadi member Crossref dan bisa memfasilitasi pendaftaran DOI untuk jurnal-jurnal di bawah naungan mereka.
Satu hal yang sering dilupakan: biaya bukan cuma soal uang. Waktu dan tenaga untuk input metadata retroaktif itu signifikan. Setiap artikel yang didaftarkan DOI-nya harus punya metadata lengkap di Crossref: judul, penulis lengkap, abstrak, tanggal terbit, URL halaman artikel. Kalau metadata di OJS kamu tidak lengkap (misalnya artikel lama hanya ada judul dan penulis tanpa abstrak), kamu harus melengkapi dulu sebelum bisa deposit DOI.
Proses Retroactive DOI: Kenapa Butuh Waktu 2-3 Bulan
Mendaftarkan DOI untuk artikel lama itu bukan proses otomatis. Berbeda dengan artikel baru di OJS yang bisa auto-deposit lewat plugin Crossref, artikel lama harus didaftarkan satu per satu atau dalam batch lewat XML upload ke Crossref.
Prosesnya seperti ini: pertama, kamu perlu menyiapkan metadata lengkap untuk setiap artikel. Di OJS, masuk ke setiap submission lama dan pastikan field title, authors (dengan affiliasi), abstract, dan publication date terisi lengkap. Ini saja sudah makan waktu berminggu-minggu kalau artikelnya ratusan dan metadata-nya berantakan.
Kedua, kamu perlu mendaftarkan metadata tersebut ke Crossref. Ada dua cara: manual lewat web deposit form (cocok untuk jumlah kecil, di bawah 20 artikel), atau XML batch upload untuk jumlah besar. XML batch upload lebih cepat tapi kamu perlu paham format XML Crossref atau gunakan tool yang bisa generate-nya. Plugin Crossref di OJS 3.x sebenarnya bisa deposit artikel lama, tapi prosesnya tetap satu per satu dari dashboard.
Ketiga, setelah deposit berhasil, DOI tidak langsung aktif saat itu juga. Crossref butuh waktu processing, biasanya beberapa jam sampai beberapa hari. Dan setelah DOI aktif, kamu harus memastikan URL yang di-resolve mengarah ke halaman yang benar di website jurnal kamu. Kalau jurnal pernah migrasi domain atau ganti struktur URL, ini bisa jadi masalah tersendiri.
Karena semua langkah ini, realistisnya kamu butuh minimal 2-3 bulan dari mulai proses sampai semua DOI aktif dan terverifikasi. Jangan tunggu satu minggu sebelum deadline submit akreditasi untuk baru mulai.
Strategi Aksi: Dari Panik ke Terencana
Minggu pertama, fokus di audit dan planning. Hitung total artikel tanpa DOI, cek kelengkapan metadata di OJS, dan tentukan jalur pendaftaran (langsung ke Crossref, lewat Relay, atau lewat LLDIKTI). Kalau metadata banyak yang kosong, alokasikan tim untuk melengkapi. Ini pekerjaan yang bisa dibagi ke beberapa orang.
Minggu kedua sampai keempat, mulai proses deposit. Kalau menggunakan OJS dengan plugin Crossref, aktifkan plugin-nya, masukkan credentials, dan mulai deposit artikel satu per satu dari yang paling baru ke yang paling lama. Prioritaskan dua tahun terakhir dulu karena itu yang paling mungkin diperiksa asesor, tapi tetap selesaikan semua karena gate criteria tidak mengenal "sebagian."
Bulan kedua, verifikasi. Cek semua DOI yang sudah didaftarkan apakah resolve dengan benar. Gunakan Crossref Participation Reports untuk memastikan tidak ada yang error. Perbaiki broken links. Dan untuk artikel baru yang akan terbit ke depannya, pastikan plugin OJS Crossref sudah dikonfigurasi untuk auto-deposit sehingga kamu tidak perlu repot lagi di masa depan.
Satu tips penting: jangan asal deposit DOI tanpa metadata yang akurat. Crossref punya quality check, dan DOI dengan metadata buruk (misalnya tanpa abstrak, penulis tidak lengkap) bisa menurunkan reputasi prefix kamu. Lebih baik pelan tapi benar daripada cepat tapi berantakan. Asesor akreditasi juga bisa mengecek kualitas metadata DOI kamu di Crossref.
FAQ
### Apakah benar SEMUA artikel harus punya DOI, termasuk yang terbit 10 tahun lalu?
Ya, frasa di Juknis 374/2026 menyebut "DOI untuk semua artikel" tanpa pengecualian berdasarkan tahun terbit. Ini berarti artikel dari edisi pertama jurnal sampai yang terbaru semuanya harus punya DOI aktif yang terdaftar di Crossref. Tidak ada klausul grandfather yang membebaskan artikel lama.
### Berapa biaya total kalau saya punya 200 artikel tanpa DOI?
Kalau mendaftar langsung ke Crossref: $275 (membership tahunan) + $200 (200 artikel x $1/DOI) = $475, sekitar Rp 7,5 juta. Kalau lewat Relay atau LLDIKTI yang sudah jadi member Crossref, biaya membership bisa dibebaskan sehingga cukup $200 untuk DOI saja. Tapi ingat, biaya waktu untuk menyiapkan metadata dan proses deposit juga harus diperhitungkan.
### Bisa tidak pakai DOI dari provider selain Crossref?
Jangan Tunggu Sampai Deadline
DOI bukan hal yang bisa diselesaikan dalam seminggu, apalagi kalau jurnal kamu punya ratusan artikel tanpa DOI. Gate criteria tidak kenal kompromi - tanpa DOI lengkap, jurnal langsung tidak dinilai. Mulai audit sekarang, hitung biaya, dan gerak sebelum terlambat.
Cek status kelengkapan jurnal kamu di [publiora.id/cek-jurnal](https://publiora.id/cek-jurnal) untuk mengetahui apakah ada gap yang perlu ditutup sebelum submit akreditasi. Atau jelajahi data jurnal Indonesia di [publiora.id/journals](https://publiora.id/journals) untuk benchmark dengan jurnal lain di bidang yang sama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah benar DOI harus ada di SEMUA artikel lama?
Ya. Juknis 374/2026 menyebutkan gate criteria: DOI untuk semua artikel. Ini berarti seluruh arsip jurnal, bukan hanya edisi terbaru.
Berapa biaya DOI per artikel lewat Crossref?
Biaya $1 per DOI lewat Crossref. Membership $275/tahun (atau gratis jika lewat Relay/sponsor). Jurnal dengan 500 artikel lama berarti sekitar $775 total.
Bisa daftar DOI lewat LLDIKTI atau Perpusnas?
Bisa. Beberapa LLDIKTI dan Perpusnas sudah jadi member Crossref dan bisa memfasilitasi pendaftaran DOI untuk jurnal di bawah naungannya.
Berapa lama proses retroactive DOI registration?
Tergantung jumlah artikel. Per artikel butuh input metadata lengkap. Untuk 200-500 artikel, sisakan 2-3 bulan kalau dikerjakan manual.
Plugin OJS Crossref bisa otomatis untuk artikel lama?
Plugin Crossref OJS hanya auto-deposit untuk artikel yang baru dipublikasikan. Untuk artikel lama harus retroactive registration via Crossref admin panel atau batch XML upload.
