ERASURE DAN SILENCE LINGKUNGAN DALAM AWIG-AWIG DESA ADAT DENPASAR
Abstrak
Awig-awig desa adat di Bali sering dianggap bernilai ekologis karena berpijak pada Tri Hita Karana, terutama unsur palemahan. Anggapan ini menyamakan semua bentuk absennya alam dalam teks, padahal absennya alam tidak selalu sama. Sebagian alam disebut tetapi diperkecil perannya, sebagian lain sama sekali tidak disinggung. Tulisan ini membaca awig-awig Desa Adat Denpasar untuk memisahkan kedua hal itu, yang dalam ekolinguistik dikenal sebagai erasure dan silence. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan kerangka erasure dan salience dari Stibbe serta tipologi silence dari Huckin, dan menilai temuan melalui ekosofi yang memadukan Tri Hita Karana dengan prinsip keberlanjutan. Dalam teks ini, tanah, tumbuhan, hewan, dan air muncul terutama sebagai milik, batas, atau hal yang harus dibuang, bahkan air hanya hadir sebagai limbah dan sebagai bahaya. Sementara itu, pencemaran air dan sampah kota yang nyata di Denpasar tidak diatur sama sekali. Palemahan pada akhirnya lebih banyak bermakna penataan ruang milik dibandingkan dengan perawatan lingkungan. Kehadiran Tri Hita Karana dalam sebuah teks, belum tentu menjamin cara pandang ekologis yang sebenarnya.
Kata Kunci
Cari jurnal yang tepat untuk naskah Anda
MatchMind AI mencocokkan abstrak naskah Anda dengan ribuan jurnal terakreditasi dan menampilkan rekomendasi terbaik beserta alasannya.
Coba MatchMindLihat profil lengkap jurnal ini
Waktu review, biaya APC, statistik sitasi, indeksasi Scopus, dan banyak lagi.
Buka Kulturistik: Jurnal Ilmu Bahasa dan BudayaArtikel ini juga tersedia di situs resmi jurnal.
