Publiora

Menghubungkan ke Publiora...

Publiora

RAMAI-RAMAI MENOLAK WISATA HALAL: Kontestasi Politik Identitas dalam Perkembangan Wisata Halal di Indonesia

Makhasi, Ghifari Yuristiadhi MasyhariRahimmadhi, Muhammad Thohir Yudha
Jurnal Sosiologi Reflektif (Sinta 3)Vol. 0 No. 024 April 2020
DOI10.14421/jsr.v14i2.1767

Abstrak

MasterCard Crescent Rating 2019 data shows Indonesia is the most popular halal tourist destination together with Malaysia. But on the other hand, in 2019 there was a rejection of Halal Tourism in several regions in Indonesia, namely Bali, South Sulawesi, North Sumatra and East Nusa Tenggara. This article tries to analyze why there is a rejection of halal tourism amid the growth of halal tourism in Indonesia. Is it more because of the recent strengthening of the wave of Islamism that has been mounted by practical political interests so that it presents its antithesis namely phobia as a form of cons of hegemony. So that the great potential of halal tourism itself is no longer seen as a great potential that can prosper anyone as a form of the universality of halal tourism. This analytical descriptive research with secondary data uses discourse analysis to answer the problem formulation with the concept of hegemony and identity politics. The conclusion of this article is that the rejection of halal tourism is significantly influenced by identity politics associated with political friction at the national and local level.Data MasterCard Crescent Rating 2019 menunjukkan Indonesia menjadi destinasi wisata halal terpopuler bersama Malaysia. Namun di sisi lain, pada kurun 2019 terjadi penolakan atas Wisata Halal di beberapa wilayah di Indonesia sebut saja Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Artikel ini mencoba menganalisis mengapa terjadi penolakan wisata halal di tengah pertumbuhan wisata halal di Indonesia. Apakah lebih karena menguatnya gelombang Islamisme akhir-akhir ini yang tertunggangi kepentingan politik praktis sebagai wujud hegemoni sehingga menghadirkan antitesisnya yakni fobia sebagai wujud konter hegemoni, sehingga potensi besar dari wisata halal itu sendiri tidak lagi dilihat sebagai potensi besar yang bisa menyejahterakan siapapun sebagai wujud universalitasitas wisata halal. Penelitian deskriptif analitis dengan data sekunder ini menggunakan analisis wacana untuk menjawab rumusan masalah dengan pisau iris konsep hegemoni dan politik identitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa penolakan wisata halal secara signifikan dipengaruhi oleh politik identitas yang terkait dengan friksi politik di level nasional dan lokal.

Kata Kunci

Halal TourismRejectionIdentity PoliticsIslamismIndonesia

Cari jurnal yang tepat untuk naskah Anda

MatchMind AI mencocokkan abstrak naskah Anda dengan ribuan jurnal terakreditasi dan menampilkan rekomendasi terbaik beserta alasannya.

Coba MatchMind

Lihat profil lengkap jurnal ini

Waktu review, biaya APC, statistik sitasi, indeksasi Scopus, dan banyak lagi.

Buka Jurnal Sosiologi Reflektif

Artikel ini juga tersedia di situs resmi jurnal.

RAMAI-RAMAI MENOLAK WISATA HALAL: Kontestasi Politik Identitas dalam Perkembangan Wisata Halal di Indonesia | Jurnal Sosiologi Reflektif | Publiora