Publiora

Menghubungkan ke Publiora...

Publiora

PRODUKSI JENIS KELAMIN TANDAN BUNGA KELAPA SAWIT DAN RESPONSNYA TERHADAP PERLAKUAN EXOGENOUS HORMONE TANAMAN PADA LAHAN YANG MENGALAMI KEKERINGAN

PRODUCTION OF OIL PALM SEX INFLORESCENSE AND ITS RESPONSE ON THE TREATMENT OF PLANT EXOGENOUS HORMONE TREATMENT UNDER DROUGHT CONDITION

Harahap, Iman YaniSumaryanto, SumaryantoHidayat, Taufiq CaesarFauzi, Wan RizkiPangaribuan, Yusran
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit (Sinta 2)Vol. 0 No. 01 April 2017
DOI10.22302/iopri.jur.jpks.v25i1.23

Abstrak

Untuk mengetahui pengaruh kekeringan terhadap produksi jenis kelamin tandan bunga kelapa sawit dan responsnya terhadap perlakuan hormon tanaman pada lahan yang mengalami kekeringan, maka dilakukan penelitian di kebun percobaan PPKS Pulau Maria, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara selama 4 tahun pada tanaman kelapa sawit tenera berumur 8 tahun (tahun tanam 2005), yang ditanam pada lahan yang datar, dengan jenis tanah Typic Paleudult, dengan bertekstur lempung berpasir (sandy loam). Areal penelitian sering mengalami defisit air sebesar 200-400 mm setiap tahunnya. Perlakukan terdiri dari pemberian 4 jenis hormon, yaitu IAA (auksin, Indole-3-acetic acid), BAP (sitokinin, 6-benzylaminopurine), GA_3 (gibberellin, gibberellic acid), dan ABA (asam absisik, absisic acid). Setiap jenis hormon diberikan dengan dosis 100, 300, dan 500 ppm/pohon, dengan frekuensi pemberian setiap 1 dan 2 kali. Desain penelitian adalah rancangan acak kelompok (randomized block design), dengan ulangan tiga kali. Peubah yang diamati produksi jenis bunga (jantan dan betina), bunga gugur, emisi pelepah daun, dan vegetatif, yaitu tinggi dan panjang rakhis pelepah daun. Analisis efek kekeringan dilakukan dengan analisis korelasi antara peubah iklim, curah hujan, hari hujan, dan defisit air tahunan dan produksi jenis tandan bunga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cekaman kekeringan menurunkan produksi tandan bunga betina, meningkatkan tandan bunga jantan, dan kejadian tandan bunga yang gugur. Perlakuan hormon auksin (IAA), memacu pertumbuhan organ vegetatif, tetapi sebaliknya menurunkan produksi tandan bunga betina dan meningkatkan tandan bunga jantan dan kejadian tandan bunga gugur. Perlakuan hormon gibberellin (GA_3), secara umum menurunkan produksi tandan bunga betina, dan meningkatkan tandan bunga jantan dan kejadian tandan bunga gugur, terutama pada tahun puncak cekaman kekeringan. Hormon sitokinin (BAP) dan dan asam absisik (ABA), menjaga produksi tandan bunga betina pada kondisi cekaman kekeringan, dengan mengurangi tandan bunga yang gugur. Hormon sitokinin (BAP), adalah hormon yang paling kuat dalam mempertahankan produksi tandan bunga betina.

Kata Kunci

hormonedroughtfemale inflorescensemale inflorescenseaborted inflorescenseOil palmhormonkekeringantandan bunga betinatandan bunga jantantandan bunga gugurKelapa sawit

Cari jurnal yang tepat untuk naskah Anda

MatchMind AI mencocokkan abstrak naskah Anda dengan ribuan jurnal terakreditasi dan menampilkan rekomendasi terbaik beserta alasannya.

Coba MatchMind

Lihat profil lengkap jurnal ini

Waktu review, biaya APC, statistik sitasi, indeksasi Scopus, dan banyak lagi.

Buka Jurnal Penelitian Kelapa Sawit

Artikel ini juga tersedia di situs resmi jurnal.

PRODUKSI JENIS KELAMIN TANDAN BUNGA KELAPA SAWIT DAN RESPONSNYA TERHADAP PERLAKUAN EXOGENOUS HORMONE TANAMAN PADA LAHAN YANG MENGALAMI KEKERINGAN | Jurnal Penelitian Kelapa Sawit | Publiora