AMBIGUS DEMOKRASI; ANTARA OTORITER DAN ANARKISME
Abstrak
Pada zaman Plato dan Aristoteles, demokrasi merupakan salah satu bentuk/sistem kenegaraan di samping aristokrasi, oligarki, timokrasi, dan tyrani. Ketika itu, aristokrasi dipandang sebagai sistem yang terbaik dan tryani sebagai yang terburuk. Sebaliknya, saat ini demokrasi merupakan pilihan yang terbaik di antara berbagai sistem kenegaraan lain yang cenderung bersifat otoriter sebagaimana sistem tyrani pada zaman Plato. Sejak Monteaquieu meletakkan dasar penataan kekuasaan negara hingga era Bill Clinton yang berupaya menumbuhkan semangat demokrasi guna menghambat sifat yang otoriter/diktator, secara praksis demokrasi tidak pernah lepas dari sifat otorisme, penguasa, dan sebaliknya melahirkan kebebasan penuh bagi rakyat yang cenderung anarkis. Inilah yang disebut ambiguitas. Ambiguitas demokrasi dapat bersekutu dengan otoriter serta anarkis, meskipun secara teoritis demokrasi adalah lawan dari otoriter dan anarkis. Akibatnya, negara sekaligus sebagai sebagai alat pengganti senjata (gun) untuk penaklukan negara lain. Secara teoritis, demokrasi itu baik, namun dalam praktek tetap ambiguis. Karena itu, ke depan harus dibangun demokrasi yang berjalan diatas rel konstitusi dengan jiwa kebangsaaan yang tinggi.
Cari jurnal yang tepat untuk naskah Anda
MatchMind AI mencocokkan abstrak naskah Anda dengan ribuan jurnal terakreditasi dan menampilkan rekomendasi terbaik beserta alasannya.
Coba MatchMindLihat profil lengkap jurnal ini
Waktu review, biaya APC, statistik sitasi, indeksasi Scopus, dan banyak lagi.
Buka Jurnal Ketahanan NasionalArtikel ini juga tersedia di situs resmi jurnal.
