Publiora

Menghubungkan ke Publiora...

Publiora

Repolarisasi Dini Tidak Selalu Jinak

Early Repolarization Is Not Always Benign

Fatullah, ImanEl Rasyid, Hauda
Indonesian Journal of Cardiology (Sinta 2)Vol. 0 No. 018 April 2017
DOI10.30701/ijc.v37i2.572

Abstrak

Pola repolarisasi dini (early repolarization/ER) ditandai dengan elevasi J-point, slurring atau notching bagian terminal dari QRS, dan elevasi segmen ST telah dianggap jinak selama beberapa dekade terakhir. Namun, beberapa laporan saat ini menunjukkan adanya hubungan antara repolarisasi dini dan meningkatnya risiko kematian karena aritmia dan fibrilasi ventrikel (ventricular fibrillation/VF) yang idiopatik, dikenal sebagai sindrom ER. Pemakaian implantable cardioverter-defibrillator (ICD) dan obat isoproterenol merupakan terapi yang disarankan pada pasien dengan sindrom ER. Sebaliknya, pasien tanpa gejala sindrom ER cukup banyak populasinya dan memiliki prognosis yang lebih baik. Stratifikasi risiko pada pasien asimptomatik ER masih tetap menjadi wilayah abu-abu. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, sehingga studi yang mengeksplorasi mekanisme yang mendasari ER terus dikembangkan.

Cari jurnal yang tepat untuk naskah Anda

MatchMind AI mencocokkan abstrak naskah Anda dengan ribuan jurnal terakreditasi dan menampilkan rekomendasi terbaik beserta alasannya.

Coba MatchMind

Lihat profil lengkap jurnal ini

Waktu review, biaya APC, statistik sitasi, indeksasi Scopus, dan banyak lagi.

Buka Indonesian Journal of Cardiology

Artikel ini juga tersedia di situs resmi jurnal.

Repolarisasi Dini Tidak Selalu Jinak | Indonesian Journal of Cardiology | Publiora