Publiora

Menghubungkan ke Publiora...

Publiora

Faktor Risiko Stunting, Anemia Defisiensi Besi, dan Koeksistensinya pada Anak Usia 6-9 Tahun di Indonesia: Hasil dari Indonesian Family Life Survey (IFLS-5) tahun 2014-2015: Risk Factors of Stunting, Iron Deficiency Anemia, and Their Coexistence among Children Aged 6-9 Years in Indonesia: Results from the Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) in 2014-2015

Risk Factors of Stunting, Iron Deficiency Anemia, and Their Coexistence among Children Aged 6-9 Years in Indonesia: Results from the Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) in 2014-2015: Faktor Risiko Stunting, Anemia Defisiensi Besi, dan Koeksistensinya pada Anak Usia 6-9 Tahun di Indonesia: Hasil dari Indonesian Family Life Survey (IFLS-5) tahun 2014-2015

Utami, Mia Mustika HutriaKustiyah, LilikDwiriani, Cesilia Meti
Amerta Nutrition (Sinta 1)Vol. 0 No. 03 Maret 2023
DOI10.20473/amnt.v7i1.2023.120-130

Abstrak

Latar Belakang: Stunting dan anemia merupakan malnutrisi dan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Bukti yang tersedia terkait koeksistensi stunting dan anemia (KSA) pada anak usia sekolah masih terbatas. Tujuan: Menganalisis faktor risiko stunting, anemia, dan koeksistensinya pada anak usia 6-9 tahun di Indonesia Metode: Studi potong-lintang ini menggunakan data sekunder yang terdiri dari 1,986 anak usia 6-9 tahun yang berasal dari 13 provinsi dari total 34 provinsi di Indonesia. Faktor risiko stunting, anemia, dan KSA dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil: Prevalensi stunting, anemia, dan KSA pada anak usia 6-9 tahun berturut-turut adalah 24.8%, 30.5%, dan 8.8%. Faktor risiko stunting adalah anemia (OR=1.355), ayah underweight (OR=1.587), pendidikan ibu (<12 tahun) (OR=1.679), orang tua pendek (ibu: OR=2.504, ayah: OR=1.995), skor sanitasi rendah dan menengah (OR=2.356, OR=1.366), dan tinggal di wilayah perdesaan (OR=1.367). Faktor risiko anemia adalah stunting (OR=1.307), usia 6-7 tahun (OR=1.933), dan orang tua anemia (ibu: OR=1.973, ayah: OR=1.692). Anak pada kelompok usia 6-7 tahun (OR=1.993) dan orang tua pendek (ibu: OR=1.901, ayah: OR=1.620) adalah faktor risiko KSA.  Kesimpulan: Koeksistensi stunting dan anemia merupakan beban ganda gizi kurang yang terjadi pada anak Indonesia. Anak anemia, ayah underweight, ibu berpendidikan rendah, skor sanitasi rendah dan sedang, serta tinggal di wilayah perdesaan meningkatkan risiko stunting. Anak stunting dan orang tua anemia meningkatkan risiko anemia, orang tua pendek meningkatkan risiko stunting dan KSA, sementara usia anak lebih muda meningkatkan risiko anemia dan KSA.

Kata Kunci

ChildrenIndonesiaMalnutritionRisk factorsAnemiaAnakFaktor risikoIndonesiaMalnutrisi

Cari jurnal yang tepat untuk naskah Anda

MatchMind AI mencocokkan abstrak naskah Anda dengan ribuan jurnal terakreditasi dan menampilkan rekomendasi terbaik beserta alasannya.

Coba MatchMind

Lihat profil lengkap jurnal ini

Waktu review, biaya APC, statistik sitasi, indeksasi Scopus, dan banyak lagi.

Buka Amerta Nutrition

Artikel ini juga tersedia di situs resmi jurnal.

Faktor Risiko Stunting, Anemia Defisiensi Besi, dan Koeksistensinya pada Anak Usia 6-9 Tahun di Indonesia: Hasil dari Indonesian Family Life Survey (IFLS-5) tahun 2014-2015: Risk Factors of Stunting, Iron Deficiency Anemia, and Their Coexistence among Children Aged 6-9 Years in Indonesia: Results from the Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) in 2014-2015 | Amerta Nutrition | Publiora